ADAT
PERKAWINAN MELAYU KEPULAUAN RIAU
1.
Persiapan Memasuki Alam Rumah Tangga
Syahdan sudahlah menjadi suatu kebiasaan dan pandangan hidup terhadap perkawinan yang begitu suci, religius, dan sakral. Pandangan hidup di dalam perkawinan berikhtibar pada hakikat keberagaman keperluan hidup manusia. Beberapa di antaranya bersumber dari lawan jenis kelamin. Kelengkapan itu antara lain : di bidang seksual (hubungan suami isteri), memperoleh keturunan, jiwa dan perasaan (psikis), perlindungan, kemasyarakatan (sosial), dan lain sebagainya.
Sudahlah pula tersirat sebagaimana lazimnya, bahwa orang Melayu Kepulauan Riau, bahwa untuk mendirikan rumah tangga dikehendaki daripadanya beberapa persyaratan, yaitu :
- Sesama
beragama Islam
- Sudah
cukup dewasa
- Sehat
badan dan juga jiwanya
- Untuk
seorang lelaki (bujang) telah mampu mencari nafkah
- Kematangan
pemikiran dan bertanggung jawab
- Memandang
perkawinan sebagai sesuatu yang suci, religius, sakral.
Rangkaian kehidupan anak manusia tersangatlah panjangnya. Dimulai dari kandungan, lahir, masa bayi, masa kanak, masa remaja, masa dewasa, berumah tangga (berkeluarga) dan bermasyarakat, kemudian tua, dan akhirnya kembali kepada Sang Pencipta. Begitu pun agaknya dalam senarai perjalanan perkawinan orang Melayu sebagaimana yang sudah tersusun turun temurun dari dahulunya, yaitu dimulai dari pada :
- Mencari
jodoh
Seperkara dalam kehidupan orang Melayu yang dianggap sangatlah
penting adalah peristiwa pernikahan. Orang tua yang mempunyai anak bujang
mulailah melakukan pekerjaan untuk mencarikan jodoh untuk anaknya. Orang Melayu
akan merasa malu, jika anaknya lambat mendapatkan jodoh, sama ada bujang atau
pun dara. Si bujang yang terlambat mendapatkan jodoh, akan disebut sebagai
“bujang terlajak” atau “bujang lapok/lapuk”. Begitu pun prihalnya kepada anak
dara yang terlambat menikah akan diperkata orang sebagai “anak dara tua”.
Itulah sebabnya orang tua selalu berusaha untuk mendapatkan jodoh anak-anaknya.
Sememangnyalah tak dapat hendak dipungkiri bahwasanya bagi orang tua yang mempunyai seorang anak lelaki lebih leluasa dalam mencarikan jodoh, dari pada orang tua yang mempunyai anak dara. Konon, jika ada anak dara atau pihak orang tua yang mempunyai anak dara yang “berlebih-lebih” melakukan kepada pekerjaan mencari jodoh ini, kelak akan pula diperkatakan orang sebagai “perigi mencari timbe”. Inilah suatu perkataan yang memalukan atau tabu bagi pihak perempuan.
Pada awal pelaksanaan adat istiadat perkawinan adalah mencari jodoh. Dahulunya di dalam perkara mencari jodoh masih dilakukan oleh pihak orang tua. Perihal yang sedemikian itu mungkin dikarenakan pihak orang tua lebih mempunyai pengalaman, dan kira-kira dapat untuk membahagiakan anaknya. Anggapan ini telah menjadi suatu keyakinan, sehinggalah sang anak menuruti akan ketentuan dari orang tuanya.
Mencari jodoh biasanya ditujukan kepada anak lelaki. Tetapi sebelum sembarang kerja dilakukan, orang tuanya selalu menanyakan kepada si anak apakah sudah bersedia untuk dicarikan seorang dara untuk menjadi pasangan hidupnya. Orang tua yang sangat berperan di dalam seperkara ini biasanya adalah orang tua perempuan yakni ibu atau sang emak.
Jika telah mendapat kesepakatan antara orang tua dan anak lelakinya, maka kemudiannya kedua orang tua akan mengundang sanak saudara terdekat untuk mengadakan perundingan perihal untuk mencarikan jodoh kepada anak lelakinya.
Kalau boleh hendak dikias-gambarkan dalam suatu lakonan, maka berikut ini hendak dipaparkan kisah si anak bujang bernama Atan yang oleh pihak orang tuanya sudah patut untuk dicarikan jodohnya. Maka oleh ayahnya yang bernama Dollah dan emaknya si Atan menjemput dan mengundang saudara mara yang terdekat untuk merundingkan pasal jodoh dan perkawinan si Atan. Ada pun saudara mara yang diundang itu seperti Pak Long – Mak Long, Pak Ngah – Mak Ngah, Pak Usu – Mak Usu, Nenek Long, Pak Anjang, Mak Uteh dan saudara mara lainnya. Maka pada harinya, berkumpullah orang-orang itu di rumah Pak Dollah,
Konon, pada malam itu setelah berkumpul saudara mara sebagaimana
yang tersebut, berkatalah Pak Dollah ayahnya si Atan, “Assalamu’alaikum warah-matullahi
wabarakatuh, pade malam ini saye menjemput abang, kakak dan adik-adik adelah untuk
berunding berkenean dengan si Atan, rencane kami sebagai ayah dan emaknye
hendak mencarikan pasangan hidupnye. Untuk membincangkan perihal ini, saye
serahkan kepade Bang Long yang lebih tue dari kite semue yang hadir di sini.
Iye tak, Bang Long?”. Demikian pembuka kata dari Pak Dollah dan yang langsung
menyerahkan kepada Pak Long untuk mengatur jalannya perbincangan.
Orang-orang yang dijemput sebenarnya telah memaklumi akan halnya pertemuan malam itu, demikian pun Pak Long, maka ketika diminta pendapat dan pikirannya tiadalah pula menjadi pikiran, “Baiklah jike itu sudah menjadi kehendak dari kite semue. Mari kite cari jalan keluar bersame-same, bak kate pepatah, berat same dipikul ringan same dijinjing. Kalaulah kite semue sudah sepakat dan memilih jalan yang terbaik, insya Allah akan baik untuk si Atan, karene umur dan pengalamannye masih lagi mentah dalam menuju mase depan yang panjang ini. Kite haruslah memikirkan juge, macam dikatekan dalam peribahase, bulat air karene betong, bulat suare karene mufakat. Sebelumnye Dollah, ape ke Atan sudah setuju dengan rancangan kau orang berdue?”. Bertanya Pak Long pada Pak Dollah sambil juga memandang kepada emaknya si Atan.
“Sudah, Bang Long!”, jawab Pak Dollah.
“Baiklah kalau begitu. Satu lagi aku nak tanye pade kau Dollah, ape
ke engkau orang suami isteri sudah mempunyai pilihan?”, tanya Pak Long.
“Hmmm... kalau soal ini... mungkin emaknye si Atan, ‘dah ade...”,
jawab Pak Dollah agak tergagap.
“Macam mane emaknye si Atan... ‘dah ade?”, tanye Pak Long ke
emaknye si Atan.
“Yang pasti ‘tu belumlah, Bang Long. Cume... saye ‘tu agak berkenan dengan budak perempuan anak Pak Leman ‘tu. Nampak sekilas die ‘tu rajin pergi ke surau, pandai mengaji, bersopan santun... tapi selebihnye kurang tahu pule saye...”, jawab emaknya si Atan.
“Yang pasti ‘tu belumlah, Bang Long. Cume... saye ‘tu agak berkenan dengan budak perempuan anak Pak Leman ‘tu. Nampak sekilas die ‘tu rajin pergi ke surau, pandai mengaji, bersopan santun... tapi selebihnye kurang tahu pule saye...”, jawab emaknya si Atan.
“Yang mane ‘tu, kak?”, tanya Mak Ngah yang sejak tadi hanya memper-hatikan
orang-orang yang bercakap.
“Ape budak bername si Esah itu, ye?”, tebak Mak Usu pula.
“Iyelah agaknye...”, jawab emaknye si Atan.
“Ooooh... kalau yang namenye
si Esah ‘tu, memang molek budaknye.
Selalu juge jumpe kalau sedang menyuci di pinggir sungai”, jelas Mak Ngah.
Tiba-tiba Pak Long berdehem, lalu berkata, “Ape kamu semue tahu pasal anak Pak Leman ‘tu?”.
“Tahu sangat tidak, kalau sikit adelah...”, jawab Mak Usu pula.
“Kalau begitu, bolehlah kite mengutus orang untuk merisik atau
mencari tahu tentang anak dare yang bername si Esah itu, bagaimane?”, tanya Pak
Long.
“Hmmm... bagus juge ‘tu. Bagaimane kalau kite meminte tolong kepade Mak Sum yang selalu ke Tanjung sane
berjualan kue. Mak Sum pun orangnye pandai bercakap, luas pengalaman dan orang
pun segan kepadenye...”, kata Mak Usu.
“Kalau memang sudah begitu keputusannye baguslah, boleh kite
meminte tolong kepade Mak Sum...”, ujar Pak Dollah dengan perasaan puas.
Demikianlah selintas lakonan yang dipaparkan berkenaan dengan
perundingan mencarikan jodoh bagi si Atan, konon, dan putus sudah kata mufakat
untuk meminta tolong kepada Mak Sum sebagai “tali barut”. Pengertian tali barut
adalah orang yang menjadi utusan pihak keluarga laki-laki untuk melakukan
kerja-kerja merisik terhadap seorang anak dara yang kelak akan dipinang.
Usaha yang dilakukan oleh seorang emak menunjuk seseorang yang boleh dipercaya untuk mencari berita tentang anak dara yang hendak dijadikan jodoh kepada anaknya, terkadang dilakukan dengan diam-diam. Sekira telah mendapatkannya barulah dirundingkan dengan si anak yang bersangkutan dan keluarga maupun saudara mara.
Biasanya yang menjadi tali barut adalah seorang ibu rumah tangga yang mempunyai pengaruh dan paling tidaknya disegani sekaliannya disukai dalam pergaulan masyarakat.
Bersambung....
Dar berbagai sumber...

0 komentar:
Posting Komentar